Komunikasi persuasif adalah bentuk komunikasi yang dilakukan sebagai ajakan atau bujukan agar komunikan mau bertindak sesuai keinginan komunikator.
Sementara itu, dikutip dari buku Strategi Branding: Teori dan Perspektif Komunikasi dalam Bisnis (2020) oleh Bambang D. Prasetyo dan Nufian S. Febriani, Erwin P. Betinghaus mendefinisikan komunikasi persuasif sebagai berikut:
“Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang dilakukan untuk mengubah konsep, ide atau gagasan, perilaku seseorang, serta hubungan kegiatan antara komunikator dan komunikan, agar perilaku dan penglihatan pendengar (komunikan) dapat terpengaruhi.”
Sederhananya, komunikasi persuasif adalah komunikasi yang dilaksanakan untuk mengubah pandangan, pemikiran, pendapat, dan perilaku komunikannya. Tiap komunikator memiliki tujuan yang berbeda ketika membujuk komunikannya. Agar tujuan itu tercapai, komunikator harus menguasai berbagai teknik komunikasi yang bisa menumbuhkan motivasi atau minat khalayaknya.
Tujuan Komunikasi Persuasif
Tujuan komunikasi persuasif sebagai berikut:
1.Merangsang
Untuk memperkuat keyakinan orang lain maka perlu disampaikan suatu fakta. Dengan cara ini, masalah lebih mudah tersampaikan ke permukaan.Anda dapat mengingat kesamaan dan keyakinan bersama.Landasan bersama berfungsi sebagai strategi untuk merangsang minat.
2. Meyakinkan
Tujuan meyakinkan adalah untuk membawa perubahan dalam keyakinan, sikap, penilaian, dan nilai pendengar.Karena pendengar mungkin melibatkan prasangka mereka dalam penilaian, rencanakan beberapa poin yang valid agar mereka mendengarkan dan memahami topik yang disampaikan.
Jika pendengar setuju dengan pikiran pembicara, maka pembicara dapat mengenalkan produk sebagai alternatif yang lebih baik, kemudian merekomendasikan tindakan ke depan yang lebih baik.
3. Ajakan Bertindak
Dengan opsi ini, pembicara dapat mengajak pendengar untuk bertindak dengan mendapatkan perhatian mereka. Tujuannya adalah untuk menciptakan rasa ingin tahu, memecahkan masalah, atau mengusulkan berbagai pilihan sebagai solusi.
Etika komunikasi persuasif
Komunikasi persuasif tidak sama dengan propaganda. Menurut Prof. Richard L. Johannesen, Profesor Komunikasi dari Northen Illinois University, untuk membatasi komunikasi persuasif agar tidak menjadi propaganda diperlukan seperangkat etika yang harus dipatuhi, yaitu:
- Memiliki ketertarikan tinggi terhadap suatu isu.
- Memiliki pemahaman lebih dari isu tersebut dibandingkan orang lain.
- Memiliki pemahaman lebih akan media massa.
- Mampu mengadaptasi ide-ide baru.
- Memengaruhi orang lain agar dapat melakukan suatu tindakan.
Teori Komunikasi Persuasif
Perlu Kamu ketahui bahwa ada beberapa teori dalam komunikasi persuasif tersebut. Beberapa teori yang ada akan menyusun detail tentang komunikasi persuasif dan bagaimana agar pola komunikasi ini bisa berjalan dengan lancar.
Nah, dilansir dari beberapa sumber, adapun beberapa teori yang berkaitan dengan komunikasi persuasif adalah sebagai berikut.
- Teori Perubahan Sikap
Jenis teori dalam komunikasi persuasif yang pertama adalah teori perubahan sikap. Ini adalah sebuah teori yang menjelaskan tentang perubahan dari sikap seorang individu.Perubahan ini terjadi dari waktu ke waktu. Umumnya, perubahan sikap terjadi karena adanya perbedaan sikap individu karena menanggapi rangsangan sesuatu.
- Teori Konsistensi Afektif – Kognitif
Teori kedua dalam komunikasi persuasif yang perlu dipahami adalah teori konsistensi afektif – kognitif. Nah, konsistensi afektif adalah sikap yang cenderung mengacu pada perasaan, emosi, atau nilai dari seseorang.Sedangkan konsistensi kognitif adalah sikap yang cenderung condong mengacu pada pikiran, pengalaman ataupun pengetahuan.Akan tetapi, jika terjadi pada pola afektif, maka pola kognitif pun juga akan berubah. Ini adalah tanda jika kedua komponen dalam teori ini saling berpaut dan berhubungan.
- Teori Belajar
Teori belajar dalam komunikasi persuasif berbicara tentang kegiatan seseorang untuk mengubah perilaku.Kegiatan belajar ini akan selalu dan senantiasa diikuti dengan perubahan baik secara psikomotor, kognitif serta afektif.Adapun contoh perubahan yang terjadi adalah perubahan pada kecakapan, sikap, keterampilan, nilai dan lainnya.
- Teori Penilaian Sosial
Teori selanjutnya dalam komunikasi persuasif yang perlu dipahami adalah teori penilaian sosial. Teori ini juga disebut sebagai social judgment theory,
di mana dipahami sebagai proses psikologis yang mendasari terjadinya perubahan serta pernyataan sikap melalui komunikasi.
Dalam teori ini dijelaskan bahwa seseorang mengetahui apa sikapnya dan ia akan mampu menentukan perubahan.Selain itu, ia juga bisa memutuskan untuk menolak sesuatu atau menerima sesuatu yang pilihan tersebut akan berdampak terhadap penilaian sosial pada dirinya.
- Teori Persepsi
Teori persepsi dalam komunikasi persuasif berbincang tentang keinginan seseorang untuk membentuk sesuatu.Keinginan inilah yang akhirnya membentuk sebuah persepsi. Dengan adanya persepsi, maka akan timbul sebuah usaha dari seseorang agar keinginannya tercapai.
- Teori Keseimbangan
Teori keseimbangan di dalam komunikasi persuasif adalah sebuah teori yang mengungkapkan tentang ketertarikan seseorang pada suatu hal berdasarkan kesamaan sikap.Kesamaan sikap ini biasanya terbentuk saat ia dan orang lain menanggapi sesuatu dengan tujuan tertentu.
- Teori Fungsional
Teori fungsional dalam pembahasan mengenai komunikasi persuasif adalah sebuah teori yang mempelajari tentang perubahan sikap seseorang yang dilandasi dengan kebutuhannya.Sikap ini memiliki fungsi untuk memberikan ekspresi nilai yang ia anut. Misalnya saja, seseorang yang ingin dianggap toleran, maka ia akan bersikap baik.
- Teori Distorsi Kognitif
Teori distorsi kognitif adalah teori yang membahas tentang pikiran seseorang.Dalam teori ini dijelaskan bahwa seseorang yang memiliki gangguan psikologis tertentu maka akan menyebabkan dirinya berpikiran berlebihan.








