Medan – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FISIP UMSU) terus mematangkan persiapan pembukaan Program Studi Hubungan Internasional (HI) dengan menghadirkan dua dosen muda dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yakni Riswanda Imawan, S.Ip., M.H.I dan Yenis Contesa, M.H.I.
Keduanya mulai bergabung di lingkungan FISIP UMSU sejak 27 Maret 2026. Kehadiran dua akademisi tersebut menjadi bagian dari langkah strategis FISIP UMSU dalam memperkuat sumber daya manusia sekaligus mendukung pengembangan kajian hubungan internasional di Sumatera Utara.
Saat diwawancarai di lingkungan FISIP UMSU pada 3 April 2026, Yenis Contesa, M.H.I menjelaskan bahwa latar belakang akademiknya berangkat dari disiplin ilmu hubungan internasional sejak jenjang sarjana hingga magister. Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Teknologi Yogyakarta dan melanjutkan studi magister di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan fokus kajian resolusi konflik, media dan komunikasi global, demokrasi, serta isu keamanan di kawasan Eropa dan Afrika.

Sebelum bergabung dengan FISIP UMSU, Yennis aktif dalam berbagai kegiatan akademik seperti penelitian dan publikasi ilmiah, serta pernah menjadi asisten dosen di UMY. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bekal penting dalam memahami dinamika dunia pendidikan tinggi.
Ia menilai FISIP UMSU memiliki peluang besar untuk mengembangkan pendidikan hubungan internasional di wilayah Sumatera Utara.
“FISIP UMSU memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam bidang hubungan internasional. Komitmen institusi dalam menyusun kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan global menjadi daya tarik bagi saya untuk berkontribusi di sini,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Riswanda Imawan, S.Ip., M.H.I. Ia menyebut pengalaman mengajar sebelumnya di tingkat pendidikan dasar dan menengah menjadi fondasi awal sebelum menjalani peran sebagai dosen di perguruan tinggi.
Menurutnya, peran dosen tidak hanya terbatas pada penyampaian materi perkuliahan, tetapi juga sebagai pembimbing dan fasilitator dalam proses pengembangan intelektual mahasiswa.
“Bagi saya, mengajar di FISIP UMSU adalah bagian dari proses belajar yang berkelanjutan, di mana saya tidak hanya mengajar, tetapi juga terus belajar, bertumbuh, dan berkembang,” ungkapnya.
Riswanda juga menilai pengembangan kajian hubungan internasional di wilayah Sumatera merupakan langkah penting agar perkembangan keilmuan tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga dapat berkembang secara lebih merata di berbagai daerah.
Keduanya berharap mahasiswa FISIP UMSU nantinya tidak hanya memahami teori hubungan internasional, tetapi juga mampu berpikir kritis, analitis, serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menghadapi dinamika isu global.
Dengan bergabungnya dua dosen muda tersebut, FISIP UMSU diharapkan semakin siap dalam merealisasikan pembukaan Program Studi Hubungan Internasional, sekaligus memperluas kontribusi akademik dalam mengkaji berbagai isu global di tingkat nasional maupun internasional.






